Selasa, 15 September 2020

Egois.

Kok bisa-bisa nya saya ketemu orang baik seperti kamu?
Kamu bisa mendapatkan jauh yang lebih baik dari saya. Saya menyebalkan, egois, bodoh, pemarah, sering membuat kamu kesal.

Tapi saya bersedia jadi teman kamu saat susah, saya bisa jadi tempat keluh kesah saat kamu gak tau lagi harus kemana, saya bersedia untuk membuat kamu bahagia. Saya sayang kamu.
Sejak ada kamu, hidup saya lebih berwarna.

Ya, saya egois.
Di tulisan ini saya hanya bercerita betapa beruntung saya bertemu kamu. Seberapa besar keinginan saya untuk selalu sama kamu, dan berharga nya kamu di mata saya. Egois bukan?

Kamu itu abadi, dalam tulisan saya.
Walau tidak tau bagaimana ke depan nya, tulisan tidak akan pernah hilang. Kamu akan bisa membaca tulisan ini kapanpun dan dimana pun yang kamu mau, tentang seseorang yang menginginkan kamu segila itu.

Dari segala kegilaan, kamu yang paling saya maklumi.
Selagi bersama kamu, saya mau.

Dan saya, cuma mau kamu.

Kamis, 27 Februari 2020

Februari

Kata orang, februari bulan kasih sayang
Banyak yang bilang, februari bulan menyenangkan
Tapi tidak denganku

Februari ku; penuh awan abu
Februari ku; penuh kelabu
Februari ku; penuh mendung

Februari ku, acap kali begitu
Ada apa?

Meskipun begitu, aku tetap menjalani februari ku
Februari penuh kejutan, penuh tantangan, penuh pelajaran

Semoga bulan berikutnya akan ada pelangi, akan ada awan biru, tidak kelabu lagi

Terimakasih, februari :)

Selasa, 29 Oktober 2019

YAKIN

Dan pada akhirnya, yang paling kita takuti adalah diri kita sendiri. Ingin mencoba lari, namun rasanya tidak mungkin di lakukan.
Kita takut melihat diri kita di cermin, bahwa segalanya “tidak baik-baik saja”. Kita terus berpura, meskipun pada diri sendiri tidak pernah bisa.

Kita terus menikmat setiap luka yang sebenarnya semakin disimpan akan terus melebar dan terus memporak-porandakan hati. Kita terlalu menikmati segala duka yang di tutupi. Sedangkan, sebenarnya segalanya ingin dibagi. Tapi, lagi-lagi hati tidak mampu. Tidak mengerti kemana segala sesuatunya harus dibagikan. Karena, dibagikan ke manusia pun rasanya percuma. Kecuali, kepada Pemilik Kehidupan.

Segalanya seperti tak terselesaikan. Bukan. Bukan tidak terselesaikan. Mungkin, kita belum menemukan bagaimana jalan keluarnya.

Tidak apa. Mari tersenyum. Teruslah meminta kepada-Nya, dan yakin semua akan (kembali) baik-baik saja. Aamiin.

Selasa, 29 Oktober 2019.
- Mita Nidiasona -


Kamis, 10 Oktober 2019

Mengingat Kembali

Untuk kedua kali, aku kembali mengunjungi kedai yang sama.
Aku betah lama-lama memandang, memutar ingatan apa yang terjadi pada malam itu.
Di bangku kedai yang kita pilih, aku seperti melihat bayangan diri saat denganmu.
Tidak berubah, pembahasan apapun jadi terasa menyenangkan.

Sia-sia saja. Tentangmu, di kepalaku tetap menjadi tempat yang paling dan akan terus bising.
Kapan berhenti mengetuk dan mengutuk pikiranku?


Kamis, 10 Oktober 2019.
- Mita Nidiasona -

Sabtu, 05 Oktober 2019

Singkat

Penasaran, nyaman, jadian, dan berujung ditinggal *uhuukk. Baiklah akan kuceritakan.

Berawal dari sebuah pesan singkat yang gak kukenal siapa orangnya. Jujur, aku itu tipe orang yang gak bakal kubalas pesan dari orang yang gak aku kenal. Tapi, akhirnya pesan doi kubalas, tapi cuek yaa hehe. Ternyata doi itu orang disekitarku juga.
Dari sana, lama kelamaan saling bertukar kabar, intens. 
Bertahan hanya dalam waktu kurang lebih 3 minggu, lalu dia hilang. Aku gak ngerti kenapa, gak tau sebabnya apa. Sempat galau, but yaudahlah..

Sebulan kemudian..
*Tringgg* hp aku bunyi. Ternyata, dia mengirimiku pesan (lagi).
Jujur, waktu itu antara senang, sedih, kesal, marah. Gak mau aku balas, tapi kubalas juga. *Nekattt. Udah di tinggal, tetep ajaa😂
Ada isi pesannya begini, kurang lebih “aku bingung kenapa kita jadi jauh gini”.
Lah, siapa yang ninggalin, siapa yang bingung. Kesel kan.
Singkat cerita.. Pokoknya setelah itu aku sama doi jalan bareng, sampai akhirnya doi mengutarakan perasaannya. Aku bener-bener bingung. Tapi emang perasaan gak bisa dibohongi, meskipun udah disakiti, ku iya-kan, siapatau dia berubah.

Bahagia? Bisa dibilang iya, dan tidak.
Aku tipe orang yang harus komunikasi. Tidak harus setiap saat, minimal ada komunikasi walau sebentar. Sementara doi, gak bisa terus-terusan berkomunikasi, dengan alasan SIBUK. Sesibuk apasi, balas pesan kan cuma beberapa detik aja.
Tapi masih bisa kutahan, selalu mikir positif, itu kuncinya. 
“mita please jangan bodoh”, ucapan itu seringkali teman-teman katakan padaku wkwkwk. Tetep, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Sampai akhirnya...
Obrolan chat tidak menarik lagi. Aku berada dititik jenuh. Mau pergi, tapi banyak sekali yang kupikirkan, tidak tega. Untung hati ini Made In Allah wkwkw.
..
Rabu malam, gak aku sebutin tanggalnya yaa hhe. Doi memutuskan untuk mengakhiri, tanpa banyak basa-basi langsung aku jawab “oke”. Kutanyakan, apa sebabnya. Lagi dan lagi, tidak bisa terus-terusan berkomunikasi. Baiklah.
Sedih, hancur, sakit, tapi tidak menangis. Aku LEGA. Ada yang pernah merasakan, gimana rasanya?? 😅
Hanya bertahan 3 minggu (lagi) wkwk singkat. Kenapa angka 3 nyebelin banget sih😁

.
Intinya, gak ada orang yang bener-bener sibuk. Kalau kita penting di hidup dia, balas chat apa susahnya. Balas chat gak makan banyak waktu kan. Ini hanya tentang prioritas.

Jangan kecewa, jangan menyesal, setiap peristiwa pasti ada rencana Allah yang lebih indah. Ambil sisi positifnya.

Untuk “doi”. Tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin bercerita. Berbagi kisah.
Terimakasih, aku bahagia.

Minggu, 6 Oktober 2019.
- Mita Nidiasona -

Egois.

Kok bisa-bisa nya saya ketemu orang baik seperti kamu? Kamu bisa mendapatkan jauh yang lebih baik dari saya. Saya menyebalkan, egois, bodoh,...